Langsung ke konten utama

Postingan

What A Proud

Ada sebuah masa SMA yang sangat aku banggakan, yaitu saat kelas XI dan XII. Kelas kami memang bukan berisi anak-anak yang pintar semua, hanya ada beberapa, tapi kalau diminta jawaban PR iya-iya saja, dan bisa membuat kami bernafas lega. Kalau dirata-rata, nilai kami sekelas konon katanya yang paling bawah, diantara kelas lain dalam satu angkatan. Kelas kamipun sempat menyandang gelar "kelas paling bersih dalam urutan paling bawah" dalam perlombaan kebersihan antar kelas pada waktu itu, malah kami mendapatkannya 2 kali. Kelas kami juga yang sering dibicarakan guru-guru sangking 'ndablek' dan susah diatur. Apalagi dari kelas XI ke XII tidak ada pemindahan kelas lagi. Kelas kami memang paling usil, kami pernah membuat jengkel dan marah wali kelas kami (Bu Suci) mungkin karena beliau sudah lelah menghadapi kami, hahahaha, dan kami malah 'ngguyoni' beberapa amukan beliau terhadap kami yang justru malah membuat kami tertawa geli. Kami juga pernah mengusili guru...

Brand

dalam sebuah bisnis, kekuatan dari sebuah brand menentukan segalanya. kalau ada brand besar yang berani menjual barangnya dengan harga tinggi, biarkan. karena dia berani bertaruh nama brand besarnya dengan kualitas barang yang sedemikian rupa dengan harga sekian. perumpamaan aja, coba kalian beli misal baju di UNIQLO (yang di Indo ada store-nya) dengan harga kisaran 300rb, terus beli baju dengan kualitas sama di distro bandung dengan harga misal 200rb. 2 tahun kemudian kalian bosan, nah! dengan kekuatan brand tadi, barang dari UNIQLO bisa kalian jual walaupun second, pasaran di internet kisaran 200rb pasti sudah banyak yang minat, dalam arti nilai pakainya cuma 100rb. nah kalo indo brand yang kalian jual? dijual separuh harga pun jarang banget yang cari. nggak mungkin banget kan kalian beli barang mahal kalo ujung-ujungnya jadi serbet dapur? pasti pengen banget nyari nilai lain yang masih bisa digali dari barang mahalnya, walaupun kondisi udah second. see? stop judge "me...

Jahatnya Peraturan (Agama) di Indonesia

bagi saya, agama itu kaya password, sifatnya private. karena sebenarnya  agama itu koneksi kita sama Tuhan, jangan dibuat publik apalagi diatur publik, nggak ada gunanya diatur juga sama pemerintah. eksistensi departemen keagamaan yang sempat juga jadi perdebatan di sidang PPKI pada akhirnya menjadi 'imbalan' untuk Pak Soekarno karena telah di'ikhlaskan'nya  kata sila pertama dalam Pancasila/Piagam Jakarta soal Syariat Islam (“Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) Tapi begitu jahatnya peraturan di Negara kita yang memandang hina orang-orang yang tidak percaya Tuhan, bahkan ada kasus kekerasan di daerah Jakarta hanya karena dia atheist, dan dia (yang atheist ini) justru malah ditahan. ya jangan karena dia tidak percaya Tuhan, kita jadi mengesampingkan Hak Asasi dia sebagai manusia. Selagi dia hidup berdampingan bersama kita, ya cukup kita hargai dia sebagai manusia, kalau dia sudah mati yasudah itu urusan dia sama Tuhan. Di ...

What's Next?

Gue bukan tipikal orang yang suka bikin resolusi tahunan. karena kesannya 'doa tahunan' apalagi wish-wish bulanan or anything else. Gue tipe orang yang penasaran sama what's next? gue mensyukuri apa yang ada, dan penasaran 'besoknya gue dikasih apa lagi ya? lusa gue dikasih apa ya?' Karena bagi gue resolusi itu justru malah bikin kita kurang berkembang. kita jadi stuck buat nyelesaiin planning awal kita, kita jadi takut nyoba hal baru. padahal situasi kan bisa beruba-ubah sewaktu-waktu. kita jadi ngga mau explore hal lain yang sebenernya emang jalan kita, kita justru menundanya, kan sayang banget. 2014 ini gue bener-bener bersyukur banget, gue bisa ketemu banyak orang-orang keren di tahun yang nggak bakal gue lupain ini. gue gagal, seneng, sedih, berhasil. gue belajar dari itu semua. 2015 gue awalin bakar-bakar, nonton film, seneng seneng sama temen-temen gue. bukan maksud ngerayain tahun baru sih, tapi lebih ke bebas tugas. karena 31 desember itu juga kita ...

My Dreams Come True!

Yap! Alhamdulillah i can be there! It's like a dream.... but i called it catching dreams on 4th June 2014. Thanks God! gue ngga nyangka banget bisa ada di sana. breath the same air sama orang yang jadi inspirasi selama ini, penyanyi kelas dunia yang udah menang 7 grammy, bisa ketemu walau ada jarak beberapa meter, nyanyi joget bareng orang-orang yang punya interest musik yang sama, walaupun so sad aku ngga bisa ketemu langsung sama taylor di backstage :( nggak semua orang di dunia punya kesempatan yang sama kaya gue, apalagi nggak semua swifties yang bisa nonton. banyak swifties yang ngga bisa dateng entah karena alasan belum ada duit buat beli tiket, ngga ada restu orang tua, jarak rumah yang jauh sama jakarta, dan mungkin ngga kebagian tiket (ya iyalah, promotornya kamp***), so sad to knew it. :( And that was make me think OH MY GOD! IM ONE OF LUCKY SWIFTIES IN HERE!