Langsung ke konten utama

Jahatnya Peraturan (Agama) di Indonesia

bagi saya, agama itu kaya password, sifatnya private. karena sebenarnya  agama itu koneksi kita sama Tuhan, jangan dibuat publik apalagi diatur publik, nggak ada gunanya diatur juga sama pemerintah. eksistensi departemen keagamaan yang sempat juga jadi perdebatan di sidang PPKI pada akhirnya menjadi 'imbalan' untuk Pak Soekarno karena telah di'ikhlaskan'nya  kata sila pertama dalam Pancasila/Piagam Jakarta soal Syariat Islam (“Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”)
Tapi begitu jahatnya peraturan di Negara kita yang memandang hina orang-orang yang tidak percaya Tuhan, bahkan ada kasus kekerasan di daerah Jakarta hanya karena dia atheist, dan dia (yang atheist ini) justru malah ditahan. ya jangan karena dia tidak percaya Tuhan, kita jadi mengesampingkan Hak Asasi dia sebagai manusia. Selagi dia hidup berdampingan bersama kita, ya cukup kita hargai dia sebagai manusia, kalau dia sudah mati yasudah itu urusan dia sama Tuhan.
Di Indonesia, kesannya kita itu harus ‘punya Tuhan’ supaya diakui keberedaan kita sebagai warga negara. Makanya banyak yang menyebut “iman KTP” ya jangan salahkan dia, dia terpaksa mengaku pada sebuah agama karena  keberadaan dia tidak akan diakui kalau dia seorang atheist. Memang sila pertama itu Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi buat apa kita memiliki semboyan ‘bhineka tunggal ika’ kalau penerapan dari semboyan yang kita junjung itu percuma adanya, dan hanya karena sila pertama kita melupakan kalau saudara kita memerlukan perlakuan yang sama (dengan mereka semua yang bertuhan). Toh tiap sila itu tidak berdiri sendiri, tiap sila itu tidak kaku, seharusnya karena atas dasar pancasila-lah yang membuat kita saling bersatu, bukan saling terpetakkan bahkan terpecah


Indonesia jahat karena tidak bisa menerima warga negaranya sebagai apa adanya mereka, sebagai pribadi yang berbeda dari yang lainnya. Terkadang kita juga jahat, kita terlalu ‘comfort’ sama keyakinan yang kita pegang, sampai kita melupakan bagai mana cara kita menjaga perasaan orang lain. Pasti kalian pernah beranggapan “agamaku paling baik, aku besok bakal masuk surga, yang agamanya beda besok bakal masuk neraka” (for me, you’re just like an asshole) sadar nggak sih, dengan kalian ngomong seperti itu, kalian sudah nyakitin perasaan orang lain? Sekarang saya tanya, menyakiti perasaan orang lain itu dosa nggak?.

Dulu saya pernah dapat pembelajaran yang sangat- sangat- sangat- sangat- sangat berharga dari Guru Agama saya semasa di SMA yang baru saja meninggal,Almarhum Pak Kholik. Beliau dulu semasa mengajar saya, pernah berpesan kalau “kelak, bisa saja kita ‘batal’ masuk surga, karena kita pernah menyakiti perasaan orang lain, orang yang kita sakiti perasaannya bisa menuntut kita, mengapa kita bisa dimasukkan surga, sedangkan semasa kita hidup kita menyakiti perasaan orang lain. Makanya, kita sebagai manusia harus saling menjaga perasaan, apabila apa yang ingin kita sampaikan itu sekiranya menyakiti perasaan orang lain, lebih baik jangan disampaikan. Lidah yang tidak bertulang ini harus selalu kita jaga, karena banyak dosa sering sekali bersumber pada lidah yang tidak bisa kita kendalikan ini.”

Bagi saya, agama yang dipegang tiap-tiap manusia itu baik, mereka semua mengajarkan kebaikan, Tuhan juga tidak se-hitam-putih itu untuk menentukan siapa yang masuk surga, siapa yang masuk neraka. for me, semua manusia berhak masuk surga, tinggal bagaimana usaha dia untuk mencapainya. Ada, orang yang suka mabok, keliaran, ‘hidup bebas’ anything else dia suka sekali memberi sedekah pada mereka yang membutuhkan, karena bagi dia memberi orang yang membutuhkan itu membuatnya bahagia, dan dia juga orangnya sensitive kalau tau orang-orang yang membutuhkan bantuan. “Nah loh, diitung nggak tuh sama Tuhan, kalo niat dia baik?” jangan sekali-kali menjudge seseorang hanya dilihat dari agamanya, jangan mentang-mentang kaum mayoritas, terus seenaknya dengan yang minoritas.

Bagi saya tidak penting seseorang itu dipandang hebat dari segi jabatan,harta,agama,ilmu,dan lain sebagainya, kalau dia belum bisa menghargai hal-hal kecil saya tidak akan menanggapnya besar.  Karena dengan menghargai hal-hal kecil, hati kita bisa menjadi lapang, menerima dan mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan. Menghargai segala yang minor, tidak akan terkesan membuat anda terlihat mayor, biar Tuhan saja yang menilai anda. Jangan cari nilai anda sendiri di masyarakat,tapi  carilah guna anda untuk masyarakat. Orang berguna terjun membantu, orang bernilai hanya sekedar dijunjung dan dipuji.


Salam Bhineka Tunggal Ika.

Komentar