Saya puya teori kalau semakin bertumbuh seseorang, tingkat keren bagi mereka semakin berbada juga.
Dulu jaman SMP saya menganggap keren musisi-musisi yang saya datangi saat performnya bersama keluarga. Ya, dulu semasa SMP saya masih sering melihat konser musik-musik lokal yang disponsori rokok-rokok, wich is sebenernya saya belum boleh datang ke konser itu, tapi karena beberapa musisi yang tampil kami kenal atau kenalan dari orang yang kami kenal, saya bisa datang dan nonton.
Disitu saya menemukan titik keren dimana seseorang yang bermusik, membuat orang terhibur dan meneriaki melodi yang sama itu tidak mudah, bukan sekedar berteriak bukan sekedar merangkai melodi, tetapi juga bagaimana mencuri perhatian ke orang yang sama sekali tidak dikenal.
SMA sudah berbeda lagi.
Dulu jaman SMP saya menganggap keren musisi-musisi yang saya datangi saat performnya bersama keluarga. Ya, dulu semasa SMP saya masih sering melihat konser musik-musik lokal yang disponsori rokok-rokok, wich is sebenernya saya belum boleh datang ke konser itu, tapi karena beberapa musisi yang tampil kami kenal atau kenalan dari orang yang kami kenal, saya bisa datang dan nonton.
Disitu saya menemukan titik keren dimana seseorang yang bermusik, membuat orang terhibur dan meneriaki melodi yang sama itu tidak mudah, bukan sekedar berteriak bukan sekedar merangkai melodi, tetapi juga bagaimana mencuri perhatian ke orang yang sama sekali tidak dikenal.
SMA sudah berbeda lagi.
Entah karena sayanya saja yang labil atau memang kibat 'keren' seseorang itu memang mudah berubah. Masa SMA saya berpatokan pada teman-teman yang secara diam-diam berprestasi. Dalam arti kita selalu bercanda, selalu melempar candaan bodoh, main kesana-sini, membicarakan hal-hal yang tidak penting lainnya, seolah hidup dibawa santai tanpa harus memikirkan tugas. Tetapi dia tetap bisa berprestasi dalam akademik, hal ini kontras karena banyak teman yang saya jumpai kalau 'terlalu banyak main' membuat mereka malas membuka buku (ini one sided banget sori), ada juga teman-teman saya pada waktu itu yang sangat pintar, tetapi dalam hal sosial dia sangat lemah.
Masa kuliah, sudah berbeda lagi, teman-teman SMA sudah berpencar ke kota-kota lain, menemui teman-teman lain dan mendapat kiblat keren yang lain.
Kalau saya sekarang lebih ke orang-orang yang memang 'do something' ke sekitarnya, membuat perubahan, membuat karya yang bercerita, membagi ilmunya kesekitarnya. Perubahan yang dibuat memang tidak atau belum signifikan, tapi yang saya salut, mereka tahu apa yang harus diubah lalu bergerak.
Disamping itu, belakangan saya sangat mengagumi orang-orang yang konsisten dalam berkarya. Mungkin masa-masa saat ini adalah masa-masa emas bagi siapa yang memang konsisten dibidangnya. Saya salah satu yang kurang bisa konsisten dalam berkarya, kurang produktif, dan kurang menggebu. Mungkin menjadi konsisten adalah salah satu goal saya kedepan, karena konsisten itu susah.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah takaran keren orang itu layaknya agama, ada kiblat.
Semakin kesini, kita tau agama kita apa :)
Masa kuliah, sudah berbeda lagi, teman-teman SMA sudah berpencar ke kota-kota lain, menemui teman-teman lain dan mendapat kiblat keren yang lain.
Kalau saya sekarang lebih ke orang-orang yang memang 'do something' ke sekitarnya, membuat perubahan, membuat karya yang bercerita, membagi ilmunya kesekitarnya. Perubahan yang dibuat memang tidak atau belum signifikan, tapi yang saya salut, mereka tahu apa yang harus diubah lalu bergerak.
Disamping itu, belakangan saya sangat mengagumi orang-orang yang konsisten dalam berkarya. Mungkin masa-masa saat ini adalah masa-masa emas bagi siapa yang memang konsisten dibidangnya. Saya salah satu yang kurang bisa konsisten dalam berkarya, kurang produktif, dan kurang menggebu. Mungkin menjadi konsisten adalah salah satu goal saya kedepan, karena konsisten itu susah.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah takaran keren orang itu layaknya agama, ada kiblat.
Semakin kesini, kita tau agama kita apa :)
Komentar
Posting Komentar